Jumat, 02 Agustus 2013

DRUG THERAPY MONITORING (DTM) PENYAKIT GASTROENTERITIS Part 1

BAB I
PENDAHULUAN


A.      LATAR BELAKANG
Dari berbagai studi telah diidentifikasi adanya polifarmasi, reaksi merugikan, kesalahan obat, ketidaktepatan penggunaan obat, ketidakpatuhan pasien, kontraindikasi dan lain-lain yang merupakan masalah utama dalam terapi obat. Studi tersebut menunjukan perlunya pemantauan terapi obat yang intensif oleh apoteker. Pemantauan terapi obat adalah suatu proses yang mencakup semua fungsi, diperlukan untuk memastikan terapi obat yang tepat, aman, berkhasiat dan ekonomis bagi pasien. Fungsi-fungsi tersebut mencakup: 1. Mengkaji pilihan obat oleh dokter untuk kondisi yang didiagnosis; 2. Mengkaji pemberian obat; 3. Memastikan dosis yang benar; 4. Mengetahui adanya atau tidak memadai respon terapinya; 5. Mengkaji kemungkinan reaksi obat merugikan (ROM) dan 6. Merekomendasikan perubahan atau alternatif dalam terapi jika situasi tertentu memerlukannya.
Kebanyakan rumah sakit dewasa ini, tidak memiliki cukup apoteker untuk dapat memantau setiap pasien yang menerima terapi obat. Untuk itu perlu ditetapkan prioritas pasien dan obat-obatan tertentu. Penetapan prioritas ini dapat dilakukan dengan seleksi pasien berdasarkan terapi obat yang didapatkan. Seleksi pasien berdasarkan terapi obat dapat dilakukan dengan  memprioritaskan pasien yang menerima obat dengan resiko tinggi reaksi toksisitas. Misalnya, obat dengan indeks terapi sempit, zat aktif resiko tinggi seperti antikoagulan, obat kardiovaskular (antiaritmia, antihipertensi), antibiotika (nefrotoksik), antikonvulsan, dan antineoplastik. Selain itu juga pasien dengan multi masalah baik kategori lansia maupun anak dan pasien yang diobati dengan kombinasi terapi yang memmungkin terjadinya interaksi obat adalah calon untuk pemantauan terapi obat. (1)
Gastroenteritis didefinisikan sebagai infalamasi membran mukosa lambung dan usus halus. Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak-anak dan lansia dikarenakan daya tahan tubuh yang lemah dan mudah mengalami dehidrasi. Gastroenteritis biasanya terjadi pada masyarakat yang berpendidikan dan berpendapatan rendah, hal ini dikaitkan dengan tingkat pengetahuan dan perilaku terhadap kesehatan yang kurang. Penyebab utama gastroenteritis akut adalah virus, bakteri atau toksinnya dan parasit. (2) Salah satu pengobatan pada gastroenteritis yang disebabkan oleh bakteri adalah antibiotik. Sebagaimana telah disebutkan diatas bahwa antibiotik merupakan salah satu obat yang beresiko tinggi mengalami reaksi toksisitas, oleh karena itu perlu dilakukan pemantauan terapi obat pada penyakit gastroenteritis. pengumpulan data dilakukan secara retrospektif, yaitu data yang diambil dari rekam medis pasien gastroenteritis yang sudah tidak dirawat di rumah sakit.

B.       TUJUAN
1.    Melakukan evaluasi ketepatan diagnosis berdasarkan data klinis pasien
2.    Melakukan evaluasi ketepatan penggunaan obat pada pasien gastroenteritis
3.    Mengetahui gambaran pengobatan pasien gastroenteritis rawat inap di rumah sakit.

C.      MANFAAT
Dengan dilakukannya DTM (Drug Therapy Monitoring), maka apoteker dapat berperan dalam meningkatkan efektivitas pengobatan dan meminimalkan risiko potensial dari penggunaan obat, selain itu juga dapat digunakan untuk menentukan rencana pengobatan (therapeutic plan).



DRUG THERAPY MONITORING (DTM) PENYAKIT GASTROENTERITIS

BAB I
PENDAHULUAN


A.      LATAR BELAKANG
Dari berbagai studi telah diidentifikasi adanya polifarmasi, reaksi merugikan, kesalahan obat, ketidaktepatan penggunaan obat, ketidakpatuhan pasien, kontraindikasi dan lain-lain yang merupakan masalah utama dalam terapi obat. Studi tersebut menunjukan perlunya pemantauan terapi obat yang intensif oleh apoteker. Pemantauan terapi obat adalah suatu proses yang mencakup semua fungsi, diperlukan untuk memastikan terapi obat yang tepat, aman, berkhasiat dan ekonomis bagi pasien. Fungsi-fungsi tersebut mencakup: 1. Mengkaji pilihan obat oleh dokter untuk kondisi yang didiagnosis; 2. Mengkaji pemberian obat; 3. Memastikan dosis yang benar; 4. Mengetahui adanya atau tidak memadai respon terapinya; 5. Mengkaji kemungkinan reaksi obat merugikan (ROM) dan 6. Merekomendasikan perubahan atau alternatif dalam terapi jika situasi tertentu memerlukannya.
Kebanyakan rumah sakit dewasa ini, tidak memiliki cukup apoteker untuk dapat memantau setiap pasien yang menerima terapi obat. Untuk itu perlu ditetapkan prioritas pasien dan obat-obatan tertentu. Penetapan prioritas ini dapat dilakukan dengan seleksi pasien berdasarkan terapi obat yang didapatkan. Seleksi pasien berdasarkan terapi obat dapat dilakukan dengan  memprioritaskan pasien yang menerima obat dengan resiko tinggi reaksi toksisitas. Misalnya, obat dengan indeks terapi sempit, zat aktif resiko tinggi seperti antikoagulan, obat kardiovaskular (antiaritmia, antihipertensi), antibiotika (nefrotoksik), antikonvulsan, dan antineoplastik. Selain itu juga pasien dengan multi masalah baik kategori lansia maupun anak dan pasien yang diobati dengan kombinasi terapi yang memmungkin terjadinya interaksi obat adalah calon untuk pemantauan terapi obat. (1)


Gastroenteritis didefinisikan sebagai infalamasi membran mukosa lambung dan usus halus. Penyakit ini lebih sering terjadi pada anak-anak dan lansia dikarenakan daya tahan tubuh yang lemah dan mudah mengalami dehidrasi. Gastroenteritis biasanya terjadi pada masyarakat yang berpendidikan dan berpendapatan rendah, hal ini dikaitkan dengan tingkat pengetahuan dan perilaku terhadap kesehatan yang kurang. Penyebab utama gastroenteritis akut adalah virus, bakteri atau toksinnya dan parasit. (2) Salah satu pengobatan pada gastroenteritis yang disebabkan oleh bakteri adalah antibiotik. Sebagaimana telah disebutkan diatas bahwa antibiotik merupakan salah satu obat yang beresiko tinggi mengalami reaksi toksisitas, oleh karena itu perlu dilakukan pemantauan terapi obat pada penyakit gastroenteritis. pengumpulan data dilakukan secara retrospektif, yaitu data yang diambil dari rekam medis pasien gastroenteritis yang sudah tidak dirawat di rumah sakit.

B.       TUJUAN
1.    Melakukan evaluasi ketepatan diagnosis berdasarkan data klinis pasien
2.    Melakukan evaluasi ketepatan penggunaan obat pada pasien gastroenteritis
3.    Mengetahui gambaran pengobatan pasien gastroenteritis rawat inap di rumah sakit.

C.      MANFAAT
Dengan dilakukannya DTM (Drug Therapy Monitoring), maka apoteker dapat berperan dalam meningkatkan efektivitas pengobatan dan meminimalkan risiko potensial dari penggunaan obat, selain itu juga dapat digunakan untuk menentukan rencana pengobatan (therapeutic plan).



Rabu, 10 Juli 2013

Ada Apa Dibalik Puasa???

Ada Apa Dibalik Puasa???

Ketika Anda berpuasa, anda tidak mengkonsumsi makanan selama kurang lebih 12 jam. Secara tidak sengaja, dalam sebuah penelitian yang dilakukan terhadap pengukuran kadar asam urat tikus dinyatakan bahwa : proses pengambilan darah hari ke-18 (setelah uji perlakuan) tikus yang terlebih dahulu dipuasakan 18 jam mengalami penurunan kadar asam urat. Volume makanan saat anda berpuasa berkurang dari biasanya. Pengosongan lambung ini membuat proses pemecahan ATP berkurang sehingga proses pembentukan Hipoxantin menjadi asam urat dapat menurun.


Merokok adalah penyebab utama dari segala macam penyakit. Dengan berpuasa, aktivitas merokok Anda akan terbatas. Karbon monoksida dan kandungan nikotin dalam tubuh akan hilang secara perlahan. Jika selama Bulan ramadhan ini anda meniatkan untuk berhenti merokok, itu adalah keputusan terbaik. Karena Kandungan berbahaya tersebut akan hilang sama sekali dalam waktu 2-3 hari setelah berhenti merokok. Pada saat itu akan timbul perasaan tak tenang serta emosi yang tidak stabil. Rasa lapar, serta keletihan yang berlebihan bahkan kesulitan tidur pun terasa. Gejala tersebut menandakan bahwa tubuh sedang membersihkan sisa-sisa nikotin yang ada. Dalam 2-3 minggu sejak berhenti merokok sirkulasi tubuh akan mulai memperbaiki kerusakan pada paru-paru. Dalam jangka waktu 1-9 bulan, batuk-batuk dan nafas pendek akan menghilang. Paru-paru mulai bersih dan fungsinya kembali normal. Perasaan tak tenang serta emosi yang tidak stabil, rasa lapar, serta keletihan yang berlebihan bahkan kesulitan tidur pun terasa hal ini dapat disiasati dengan dzikir dan shalat malam.


Senin, 08 Juli 2013

Kecantikan dan Kesehatan adalah Kebutuhan

Apa bedanya Obat dengan Kosmetik??
Obat adalah bahan/paduan bahan-bahan untuk digunakan dalam menetapkan diagnosis, mencegah, mengurangi, menghilangkan, menyembuhkan penyakit, luka atau kelainan badaniah atau rohaniah pada manusia/hewan, memperelok badan atau bagian badan manusia.
Mudahnya : Obat merupakan zat berkhasiat yang digunakan untuk mengurangi atau menghilangkan gejala atau gejala penyakit baik pada manusia maupun hewan.
Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang untuk digunakan pada bagian luar badan (kulit, rambut, kuku, bibir dan organ kelamin bagian luar), gigi  dan rongga mulut untuk membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampakan, melindungi supaya tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit.
Singkatnya kosmetik merupakan sediaan yang digunakan untuk bagian luar tubuh, tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan penyakit.

Kenapa kosmetik bikin ketergantungan?
Saya teringat dengan pernyataan pembicara seminar di kampus. Menurut Martha Tillar, “Kecantikan dan Kesehatan adalah Kebutuhan”.  Jadi untuk menjadi cantik dan sehat memang menjadi suatu kebutuhan. Setiap orang membutuhkan hidup yang sehat dengan cara menjaga kesehatannya (berolahraga, mengobati penyakitnya, dll). Setiap orang juga mendambakan kecantikan sehingga ia mencari cara untuk merawat tubuh, menjaga penampilan (mandi, spa, berhias, dll).
Lantas apakah kosmetik yang digunakan untuk menjaga penampilan menimbulkan ketergantungan?? Hal ini tergantung dari sudut pandang Anda menyikapinya. Jika dengan memakai kosmetik membuat Anda merasa lebih percaya diri, lebih menambah daya tarik. Hal ini dianggap wajar, karena memang fungsi kosmetik sebagai penunjang penampilan.
Berbeda halnya, ketika Anda tidak lagi memakai kosmetik timbul berbagai reaksi yang tidak diinginkan atau tidak seperti biasanya atau dianggap sebagai ketergantungan. Berarti ada yang bermasalah dengan kosmetik Anda. Entah Anda yang mengalami reaksi alergi atau bahan dalam kosmetik yang tidak aman. Kosmetik yang baik, adalah kosmetik yang mengandung bahan-bahan yang aman untuk kulit, tidak menimbulkan iritasi/reaksi hipersensitifitas (alergi).

Secara psikologi, memakai kosmetik, sama halnya seperti Anda makan, ketika anda tidak makan (kegiatan yang dilakukan setiap hari) anda akan merasakan lapar, sakit maag anda kumat, pusing, dan berujung sakit. Begitu pula ketika anda tidak memakai kosmetik, anda akan merasakan tidak percaya diri, timbul jerawat, kulit anda kembali seperti dulu sewaktu tidak memakai kosmetik, atau hal lainnya. Perlu sikap yang bijak untuk menghadapi keadaan ini. 

Minggu, 30 Juni 2013

FORNAS sebagai Kendali Mutu dan Biaya Pengobatan

Untuk mendukung terlaksananya SJSN yang mengacu pada penggunaan obat yang rasional, maka diperlukan suatu sistem formularium yang bersifat nasional. Apoteker sebagai tenaga penunjang kesehatan harus dapat menunjang informasi terkait obat yang akan masuk dalam formularium nasional. Salah satu pendekatan medik yang digunakan untuk penelusuran bukti ilmiah terkait obat-obatan maupun hal lain yang berhubungan dengan kepentingan pelayanan kesehatan adalah Evidance Based Medicine (EBM). Telaah kritis terhadap literatur yang berkaitan dengan suatu obat dilakukan untuk mempermudah pengambilan keputusan dalam menyusun formularium nasional.
Formularium Nasional (Fornas) adalah daftar obat yang disusun berdasarkan bukti ilmiah mutakhir oleh Komite Nasional Penyusunan Fornas. Obat yang masuk dalam daftar obat Fornas adalah obat yang paling berkhasiat, aman, dan dengan harga terjangkau yang disediakan serta  digunakan sebagai acuan untuk penulisan resep dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Selain itu, Fornas adalah bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Oleh karena itu, perlu disusun suatu daftar obat yang digunakan sebagai acuan nasional penggunaan obat dalam pelayanan kesehatan SJSN untuk menjamin aksesibilitas keterjangkauan dan penggunaan obat secara nasional dalam Formularium Nasional. 
Dalam penyusunan formularium nasional ada banyak kriteria yang dipenuhi untuk pemilihan obat esensial maupun penambahan obat. Salah satunya adalah memiliki rasio manfaat-resiko (benefit-risk ratio) yang paling menguntungkan penderita atau manfaat-biaya (benefit-cost ratio) atau paling tertinggi berdasarkan biaya langsung dan tidak langsung dari penderita.
Menurut Dirjen Binfar dan Alkes, latar belakang akan disahkannya Formularium Nasional, berkaitan dengan implementasi program Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang akan diterapkan pada secara bertahap 1 Januari 2014. Fornas juga digunakan untuk pelayanan kesehatan di Rumah Sakit agar menggunakan Sistem Indonesia Case Based Groups (INA CBG’s) agar rasional, efisien, dan efektif, namun penggunaan obat tetap harus dipantau. Selain itu, diperlukan adanya daftar obat yang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari INA CBG’s, untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan sesuai kaidah dan standar yang berlaku. Legalisasi keberadaan Fornas didasarkan pada UU No. 40/2004 tentang SJSN Pasal 25, UU No. 36/2009 tentang Kesehatan Pasal 40, UU No. 24/2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). 


Unggah KepMenkes No. 89/MENKES/SK/II/2013 : http://www.slideshare.net/Firla24/fornas

Unggah UU No. 40/2004 tentang SJSN dan  UU No. 24/2011 : http://howtobealuckyperson.blogspot.com/2013/05/sjsn-dan-bpjs-siapakah-mereka.html

LINTAS DIARE (LIMA LANGKAH TUNTASKAN DIARE)


Diare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja dan frekuensinya lebih sering (biasanya tiga kali atau lebih) dalam satu hari.
Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam 6 golongan besar yaitu infeksi (disebabkan oleh bakteri, virus atau infestasi parasit), malabsorpsi, alergi, keracunan, imunodefisiensi dan sebab sebab lainnya. Penyebab yang sering ditemukan di lapangan ataupun secara klinis adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan

 
Sumber : DepKes RI, DitJen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. 

Lima Langkah Tuntaskan Diare (LINTAS DIARE):
      1.     Berikan oralit
Oralit diberikan untuk mengganti cairan dan elektrolit dalam tubuh yang terbuang saat diare. Walaupun air sangat penting untuk mencegah dehidrasi, air minum tidak mengandung garam elektrolit yang diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan elektrolit dalam tubuh sehingga lebih diutamakan oralit. Campuran glukosa dan garam yang terkandung dalam oralit dapat diserap dengan baik oleh usus penderita diare.

      2.     Berikan tablet Zinc selama 10 hari berturut-turut
Pada saat diare, anak akan kehilangan zinc dalam tubuhnya. Pemberian Zinc mampu menggantikan kandungan Zinc alami tubuh yang hilang tersebut dan mempercepat penyembuhan diare. Zinc juga meningkatkan sistim kekebalan tubuh sehingga dapat mencegah risiko terulangnya diare selama 2-3 bulan setelah anak sembuh dari diare. Zinc diberikan satu kali sehari selama 10 hari berturut-turut. Pemberian zinc harus tetap dilanjutkan meskipun diare sudah berhenti. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan ketahanan tubuh terhadap kemungkinan berulangnya diare pada 2 – 3 bulan ke depan. Pemberian zinc selama 10 hari terbukti membantu memperbaiki mucosa usus yang rusak dan meningkatkan fungsi kekebalan tubuh secara keseluruhan.

      3.     Teruskan ASI-makan
Jika anak sedang diare, anak harus diberi makan seperti biasa dengan frekuensi lebih sering. Lakukan ini sampai dua minggu setelah anak berhenti diare. Jangan batasi makanan anak jika ia mau lebih banyak, karena lebih banyak makanan akan membantu mempercepat penyembuhan, pemulihan dan mencegah malnutrisi.

      4.     Berikan antibiotik secara selektif
Setiap anak diare tidak harus diberikan Antibiotik, karena tidak semua kasus diare memerlukan antibiotik. Antibiotik hanya diberikan jika ada indikasi, seperti diare berdarah atau diare karena kolera, atau diare dengan disertai penyakit lain. Ini sangat penting karena seringkali ketika diare, masyarakat langsung membeli antibiotik seperti Tetrasiklin atau Ampicillin. Selain tidak efektif, tindakan ini berbahaya, karena jika antibiotik tidak dihabiskan sesuai dosis akan menimbulkan resistensi kuman terhadap antibiotik.

      5.     Berikan nasihat pada ibu/keluarga
Berikan nasihat dan cek pemahaman ibu/pengasuh tentang cara pemberian Oralit, Zinc, ASI/makanan dan tanda-tanda untuk segera membawa anaknya ke petugas kesehatan jika anak:
- Buang air besar cair lebih sering
- Muntah berulang-ulang
- Mengalami rasa haus yang nyata
- Makan atau minum sedikit
- Demam
- Tinjanya berdarah
- Tidak membaik dalam 3 hari